Siswi MTsN 2 Kota Surabaya Temukan Detektor Dini Disleksia
MTSN 2 Kota Surabaya >> Berita>>Inovasi>>Prestasi>> Siswi MTsN 2 Kota Surabaya Temukan Detektor Dini Disleksia
Siswi MTsN 2 Kota Surabaya Temukan Detektor Dini Disleksia
Siswi MTsN 2 Kota Surabaya Temukan Detektor Dini Disleksia

Surabaya, 6 September 2024 – Dua siswi Madrasah Tsanawiyah Negeri (MTsN) 2 Kota Surabaya berhasil menemukan alat detektor dini disleksia. Temuan ini menjadi kebanggaan tersendiri bagi madrasah dan Kota Surabaya [citation:4].
Inovasi dari Dua Siswi Berbakat
Peneliti yang terlibat adalah dua siswi kelas IX bernama Fathi Zahiya (14 tahun) dan Nur Maisyah Ilmira (14 tahun). Penelitian mereka berjudul “Implementasi Metode Neural Network dan Elektroensefalografi pada Rancang Bangun Aplikasi Deteksi Disleksia Berbasis Mobile (DMD)” [citation:7].
Temuan ini menjadi salah satu finalis di ajang Madrasah Young Researcher Supercamp (MYRES) 2024 yang digelar Kementerian Agama di Ternate, Maluku Utara, pada 3-7 September 2024 [citation:10].
Cara Kerja Alat Detektor Disleksia
Fathi Zahiya menjelaskan, pada penderita disleksia, gelombang otak beta dan gama selalu tidak beraturan. Kesimpulan ini kemudian diuji dengan metode epoch sebanyak 20 kali dan hasilnya akurat 100 persen [citation:1].
- Cara Penggunaan: Menempelkan beberapa sensor di kepala anak yang dites, kemudian dibaca dengan alat elektroensefalografi (EEG)
- Hasil: Menunjukkan grafik semua gelombang otak secara terperinci dalam skala amplitudo
- Keunggulan: Deteksi langsung keluar hasilnya dengan skor akurat
- Durasi Pembuatan: Dua bulan dengan biaya Rp5 juta
Keunggulan Dibanding Metode Konvensional
Menurut guru pembimbing, Vira Wardati, metode ini belum dipakai oleh para psikolog. Selama ini psikolog masih menggunakan tes manual yang memakan waktu hingga 10 hari untuk mendapatkan hasil akhir [citation:4].
“Sampai saat ini belum ada aplikasi alat ini untuk deteksi disleksia. Para psikolog masih menggunakan tes manual.”
– Vira Wardati, Guru Pembimbing
Dampak dan Harapan
Vira menjelaskan bahwa disleksia dapat diterapi secara dini dan peluang keberhasilannya lebih besar. Intervensi dini dapat membantu anak-anak disleksia menjadi pembelajar yang terampil [citation:7].
Data Disleksia di Indonesia:
- Prevalensi disleksia sebesar 10% berdasarkan data Dyslexia Center Indonesia tahun 2019
- Dalam setiap kelas berisi 30 anak, biasanya ada 2-3 anak yang sebenarnya menderita disleksia
- Banyak dari mereka tidak terdeteksi sehingga tidak dilakukan terapi
Related Post
- March 31, 2026
- by admin
- 0
- 4:00 pm